Tadzkira tadzkira.com
Akhlak & Nasihat

Adab Menuntut Ilmu di Era Digital

Thoriq Al Fatih ·

Mudahnya mengakses kajian dan artikel keislaman di internet tidak menjamin ilmu itu berkah bila adabnya terlupakan. Berikut adab-adab menuntut ilmu yang perlu dijaga seorang muslim di tengah banjir informasi digital.

0 1 2 menit baca
Adab Menuntut Ilmu di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, menuntut ilmu agama tidak lagi harus datang langsung ke majelis seorang ustadz. Cukup dengan ponsel di tangan, seseorang bisa mendengarkan kajian, membaca artikel, bahkan menonton kajian tafsir dari ulama di belahan dunia mana pun. Kemudahan ini adalah nikmat yang luar biasa besar — namun di balik kemudahan itu, ada bahaya yang sering luput dari perhatian: hilangnya adab dalam menuntut ilmu.

Para ulama salaf sangat menekankan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa adab. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy, "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu." Ucapan ini menegaskan bahwa adab adalah pondasi, sedangkan ilmu adalah bangunan di atasnya. Bangunan sebesar apa pun tidak akan berdiri kokoh tanpa pondasi yang kuat.

1. Meluruskan Niat

Kemudahan mengakses kajian secara online kadang membuat seseorang lupa meluruskan niat. Ilmu dicari sekadar untuk menambah wawasan, bahan debat di media sosial, atau validasi pendapat pribadi — bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengamalkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, namun ia menuntutnya untuk meraih dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi surga (HR. Abu Dawud). Setiap kali membuka video kajian atau artikel keislaman, luruskan kembali niat: ilmu ini dicari untuk diamalkan, bukan sekadar dikoleksi.

2. Selektif Memilih Sumber

Derasnya arus informasi membuat siapa saja bisa menjadi "pengajar" di internet tanpa jelas sanad keilmuannya. Seorang penuntut ilmu wajib selektif — pastikan sumber kajian berasal dari ustadz atau lembaga yang jelas latar belakang keilmuannya, bukan sekadar akun viral dengan pengikut banyak. Ilmu agama bukan perkara yang bisa diambil dari sembarang orang, karena ia menyangkut cara seseorang beribadah kepada Allah.

3. Tidak Tergesa-gesa Berfatwa

Salah satu penyakit era digital adalah kebiasaan cepat berkomentar dan memberi "fatwa" instan di kolom komentar, padahal ilmu yang dimiliki baru sepotong-sepotong. Adab menuntut ilmu mengajarkan untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru menyimpulkan hukum sebelum benar-benar memahami dalil dan penjelasan ulama secara utuh.

4. Menjaga Waktu dan Fokus

Ironisnya, gawai yang menjadi sarana menuntut ilmu justru sering menjadi sumber gangguan itu sendiri. Notifikasi media sosial, pesan yang masuk, atau algoritma yang menggiring ke konten lain membuat fokus mudah teralihkan di tengah menyimak kajian. Seorang penuntut ilmu perlu disiplin: matikan notifikasi, luangkan waktu khusus, dan perlakukan sesi belajar online selayaknya duduk di majelis ilmu yang sesungguhnya.

5. Mengamalkan, Bukan Sekadar Menyimpan

Banyak orang merasa sudah "berilmu" karena memiliki ratusan video kajian tersimpan atau artikel yang di-bookmark, padahal belum satu pun diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Setiap kajian yang didengar, sekecil apa pun, hendaknya ditindaklanjuti dengan amal — meskipun hanya satu adab sederhana yang bisa langsung diterapkan dalam keseharian.

Penutup

Kemudahan teknologi semestinya menjadi sarana mendekatkan diri kepada ilmu yang bermanfaat, bukan menjadikan ilmu sekadar konsumsi informasi tanpa bekas. Dengan menjaga niat, selektif memilih sumber, berhati-hati dalam berbicara, disiplin menjaga fokus, dan yang terpenting mengamalkan apa yang telah dipelajari — menuntut ilmu di era digital tetap bisa membawa keberkahan sebagaimana majelis-majelis ilmu di masa salaf dahulu.

Thoriq Al Fatih
Tentang Penulis
Thoriq Al Fatih

Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tampil setelah disetujui admin.